Manis.
Semua hal tentangnya terasa manis. Tak semua memang, tapi ia adalah salah satu yang tak pernah gagal memecahkan tawaku dan mengembakngkan senyumku. Waktu yang ku habiskan bersamanya, tak pernah terasa sia-sia. Kalian tau definisi bahagia? Berada didekat orang yang merasa bahagia didekatmu. Itu salah satu dari banyak definisi bahagia menurutku.
Kami bertemu saat kami berdua masih sangat muda, saat kami masih anak anak. Saat kami sedang menikmati bahagianya masa kanak-kanak yang bebas. Masa dimana kita hanya perlu menangis untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Masa dimana kita merasa berani untuk melakukan apapun yang kita ingin lakukan tanpa banyak perhitungan dan ragu.
Sekolah Dasar.
Kami bertemu saat kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Tidak, kami tidak belajar di sekolah yang sama. Maksudku, letak sekolah kami berdekatan sehingga memungkinkan untuk kami mengenal siswa siswa dari sekolah tetangga.
Selain Sekolah Dasar, dulu aku masuk sekolah mengaji pada sore harinya. Karna sekolah mengaji di tempat kami hanya terdapat satu, kami bersekolah di sekolah yang sama. Tapi, lagi, kami tak berada di kelas yang sama. Kelas kami bersebelahan, membuat kami dapat sering untuk sekadar bertatap muka tanpa bicara. Malu. Untuk sekedar menyapa saja aku malu.
Kami melanjutkan pendidikan memasuki sekolah menengah pertama dan atas. Dan lagi, kita tak pernah berada di sekolah yang sama. Akupun tak pernah mendengar kabar tentangnya. Seperti tak pernah berjodoh.
Masa SMA akan segera berakhir, namun tidak dengan kami. Justru inilah awal cerita kami dimulai.
Aku sangat berterima kasih kepada berbagai macam media sosial yang memudahkan kita untuk berkomunikasi. Karna lewat media sosial, aku yang sebelumnya tak pernah berani untuk sekadar menyapanya dulu justru bisa dengan luwes berbincang dengannya.
Satu hal yang tak pernah aku ketahui tentangnya adalah, dia adalah pribadi yang menarik. Seorang yang bisa membuatku betah berlama lama menatap layar ponsel hingga larut malam bahkan hingga fajar menjelang hanya untuk berbincang dengannya.
Tak harus sesuatu yang besar, hal hal kecil yang sederhana saja bisa membuat perbincangan kami begitu menarik dan membawa senyum kecil serta gelak tawa diujung ponsel masing-masing.
Kadang, kami memiliki sudut pandang yang berbeda tentang menilai sesuatu. Tetapi justru dengannya lah aku tau bahwa tak hanya ada hitam dan putih. Kadang kita perlu abu abu.
Entahlah segala sesuatu tentangnya membuatku sangat tertarik. Pertama kali mendengar suaranya diujung telfon, misalnya. Setidaknya aku tak bisa berhenti tersenyum dan menggigit bibirku karna gugup dan senangnya.
Juga pertama kali aku pergi dengannya. Rasanya seperti ada banyak kupu-kupu di perutku.
Fix, aku jatuh cinta pada lelaki ini.
Hubungan kami memang tak selalu berjalan sempurna. Tak hanya ombak yang mengalami pasang surut, hubungan kami pun.
Kami tak mencari kesempurnaan, kami hanya sedang menyatukan misi. Misi untuk membangun hubungan yang dewasa.
Hubungan yang tak hanya sekedar mencari kesenangan. Tapi juga mengajarkan kami tentang komitmen. Komitmen yang tlah kami buat 8 bulan yang lalu. Ketika kami memutuskan untuk bersama. Sebagai sepasang kekasih tentunya.
Hubungan yang sehat adalah dimana kita mendapatkan lebih banyak kebahagiaan daripada kesedihan. Dan dalam hubungan ini jelas aku mendapatkan banyak sekali kebahagiaan. Aku bahagia. Sungguh.
Kami selalu berusaha untuk menjaga kebahagiaan ini tetap utuh. Aku ingin seperti ini. Selalu seperti ini.
Mungkin kebahagiaan kami tak kan bisa layaknya pasangan kekasih yang lain. Karna diantara kami terdapat jarak yang tak dekat. Jarak yang menjauhkan raga kami. Jarak yang membuat kami tak selalu bisa bertatap kapanpun kami inginkan.
Dan inilah yang harus kami hadapi. Ini yang menguji kami tentang komitmen.
Mampukah kami menjaga komitmen yang tlah kami buat? Mampukah aku? Mampukah ia?
Atas pertanyaan pertanyaan itu hanya waktu yang kan membuktikan.
Ia menjadi salah satu orang yang berarti untukku sekarang
Seperti kacamata. Ia seperti kacamata untukku. Dengannya aku bisa melihat segalanya dengan lebih jelas.
Jika bertanya sebanyak apa perasaanku padanya saat ini, kalimat ini mungkin bisa mewakilinya: aku menyayanginya sebanyak ia menyayangiku.
Dan, oh ya, namanya Rio :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar