Aku terdiam di sudut Pekat,
Aku terus senandungkan nada
walau semuanya hanya terbalaskan sebuah deru yang membisu...
Aku terdiam di sudut ruang,di tengah semesta yang meredup...
Aku berharap semua ini segera usai,
Walau ku tau akan berakhir juga debaran di dadaku...
Kemudian aku terdiam di ruang terang,
yang sudah terlalu lama menggelap...
Sepekat malam,yang menggelapkan mata,
Yang akhirnya pun hilang harapan.
Sabtu, 30 Juni 2012
Kamis, 28 Juni 2012
28 Juni 2012
hari ini tanggal 28 Juni,
berarti besok tanggal 29 kan? dan itu juga artinya besok itu ulang tahun lo :/
dari jaman kapan gue mikirin bakal ngapain pas ultah lo, dulu sihh banyaaak banget yang pengen gue lakuin pas ultah lo..
tp ternyata takdir berkata lain, hubungan kita kandas ditengah jalan -__-
gue jd bingung mesti ngapain pas tanggal 29 nanti, gue mau ngejalanin rencana yang udh gue buat dari dulu tapi kan skrg lo sama gue itu udah bukan "kita" lagi :(
mau cuek aja juga ya gimana ya, hmm..
akhirnya baru td pagi gue sadar kalo ultah lo itu besok dan gue belum nyiapin apapun buat itu -,-
gue pengen bikin something yang simple tp berkesan, dan akhirnya gue putusin buat bikin video yang nantinya bakal gue kasih ke elo.
dari jam 12 siang sampe jam setengah 6 gini gue ngejogrog di depan laptop. pusing ya pusing dah ni mata ._.
dan finally videonya udh jadi, yess! yaah walaupun hasilnya nggak bagus2 amat. namanya juga baru pertama kali ;)
dengan mengandalkan pengetahuan movie maker gue yang pas-pasan akhirnya jd juga tuh video. udah gue burn juga ke cd. fiuuhh~ lega :D
ehmm tapi, masa cuma itu? apa lg ya?
gue sempet mikir kenapa gue nggak edit photo dia trus gue cetak dan gue taro di figura.
oke itu good idea buat sekarang ;) tp kalo yg photo ini blm gue edit, bentaran deh.. masih capek nih~ -__-
istirahat bentar dulu deh, baru lanjutin lg ;)
Selasa, 26 Juni 2012
catatan kecil untukmu
pernah ngerasa nggak dihargain? pernah ngerasa nggak dianggep? pernah ngerasa jd yang tak diinginkan? gimana rasanya? nggak enak kan ya? ya itu yang gue rasain sekarang :D
rasanya tuh nyesek panas gerah pengen garukin orang gimanaa gt :D
gue yang notabene sayang sama lo, yang peduli sama lo, yang ikut ngerasa sakit kalo lo disakitin, tp gue cuma kayak angin lalu gitu aja buat lo..
ya gue tau, cinta itu nggak bisa dipaksa. semua orang punya hak untuk mencintai siapapun yang diinginkannya. termasuk lo. lo berhak ngasih cinta lo itu ke siapa aja yang lo mau, lo berhak ngasih hati lo ke "dia" :') dan gue? nasib gue? gue cuma cewe kurang beruntung yang ada di lalu lintas percintaan lo! mungkin lo pernah mikir kalo gue cuma "pelampiasan" lo. tp yang lo libatkan disini tuh hati manusia. lo udah bikin gue jatuh hati sama lo, lo udah bikin gue percaya kalo lo juga sayang sama gue, dan tanpa beban lo pergi dan dengan membawa separuh hati yang dengan bodohnya udah gue kasih buat lo :'
gue gak pernah nyesel pernah sayang sama lo, yang gue sesalin cuma satu. kenapa gue pernah mikir kalo lo juga sayang sama gue dan gue yakin lo bakal berubah dan ngasih seluruh hati dan sayang lo cuma buat gue?! karena dalam kenyataannya itu nggak pernah terjadi!
gue tau suatu saat nanti gue bakal ketawa baca tulisan gue ini :'D dan mungkin orang yang baca tulisan ini pun bakal ketawa baca tulisan super cengeng gue ini. but I don't care, orang lain gak akan pernah ngerti apa yang gue rasain. walaupun org bilang "ya gue ngerti kok gimana perasaan lo" tp sebenernya dia gak ngerti, karena dia ngga ada di posisi gue. nggak! seberat apapun masalah gue, orang lain bakal tetap berjalan maju. nggak akan nengok bahkan berhenti.
tapi tenang, gue bukan cewe yang terlalu bodoh yg berani nutup hati buat orang lain. gue tau, life must go on!
lo cuma salah satu pemeran dalam drama kehidupan gue yang menyumbang warna di kehidupan gue. dan mungkin gue bakal ketemu sama pemeran pemeran lainnya yang tentunya membawa lebih banyak warna :)
kisah tukang baso
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai.. Hujan rintik-rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor….. terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso?
“Mauuuuuuuuu..”, secara serempak dan kompak anak-anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya.
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu pisahkan? Barangkali ada tujuan?”
“Iya pak, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.
“Maksudnya…?”, saya melanjutkan bertanya.
“Iya Pak, kan agama dan islam menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat… sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?
Ia menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Tuhan kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rizky. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..?
Menurur saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita kok.
“Masya Allah… sebuah jawaban dari seorang tukang bakso”
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor….. terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso?
“Mauuuuuuuuu..”, secara serempak dan kompak anak-anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya.
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu pisahkan? Barangkali ada tujuan?”
“Iya pak, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.
“Maksudnya…?”, saya melanjutkan bertanya.
“Iya Pak, kan agama dan islam menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Hatiku sangat… sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.
Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?
Ia menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Tuhan kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rizky. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..?
Menurur saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita kok.
“Masya Allah… sebuah jawaban dari seorang tukang bakso”
celotehan cewek labil
gue cuma pengen ngebagi sedikit unek-unek gue yang udah gue simpen..
ini tentang seseorang.. lo! ya itu lo!
ternyata emang bener ya kadang orang yang paling kita sayang justru yang paling berpotensi buat nyakitin kita -_-
satu pertanyaan besar yang belum gue tau jawabannya "LO NGANGGEP GUE APA SELAMA INI?"
oke kenapa pake caps lock? gapapa biar keren aja :D
gue sering bgt nanya sm diri gue sendiri, gue dianggep apa? semua yang gue lakuin buat apa? sia-sia kah? tak berarti kah?
padahal gue udah usaha maksimal buat jd yg terbaik buat lo, ya walaupun mungkin dimata lo gue itu cuma pengganggu hidup lo aja.
gue suka bingung ya, lo bisa BANGET bersikap manis ke cewe lain, nah sedangkan ke gue? gue yang udah nglakuin hal yang nggak sedikit buat lo aja lo gak pernah tuh semanis itu sama gue. kenapa? apa gue gak pantes dapet perlakuan manis lo? yang ada gue cuma lo bikin kesel mulu. capek loh makan hati terus. makanya gue pengen banget cepet-cepet naik kelas dan gak sekelas sama lo lagi. kenapa? bukan karna gue benci sama lo. gue cuma capek kalo harus terus-terusan makan hati. gue cuma kasian sm diri gue sendiri.
sikap lo yang agak berlebihan ke salah satu pihak itu yang bikin gue risih (banget). bahkan bukan cuma gue loh yang sebel ngliat sikap lo itu. awalnya gue pikir cuma gue yang gak suka ngliat sikap lo yg berlebihan itu, karna gue pikir gue cuma cemburu. ya, cemburu. tp ternyata enggak, gak cuma gue!
gue sama sekali nggak benci sama lo, gue cuma benci sama diri gue sendiri kenapa gue masih belum bisa bersikap acuh kaya sikap lo ke gue!
tp gue yakin ini cuma masalah waktu, lambat laun gue yakin semuanya bakal balik lagi kaya semula. semuanya bakal baik-baik aja. pasti baik-baik aja :)
-DK-
ini tentang seseorang.. lo! ya itu lo!
ternyata emang bener ya kadang orang yang paling kita sayang justru yang paling berpotensi buat nyakitin kita -_-
satu pertanyaan besar yang belum gue tau jawabannya "LO NGANGGEP GUE APA SELAMA INI?"
oke kenapa pake caps lock? gapapa biar keren aja :D
gue sering bgt nanya sm diri gue sendiri, gue dianggep apa? semua yang gue lakuin buat apa? sia-sia kah? tak berarti kah?
padahal gue udah usaha maksimal buat jd yg terbaik buat lo, ya walaupun mungkin dimata lo gue itu cuma pengganggu hidup lo aja.
gue suka bingung ya, lo bisa BANGET bersikap manis ke cewe lain, nah sedangkan ke gue? gue yang udah nglakuin hal yang nggak sedikit buat lo aja lo gak pernah tuh semanis itu sama gue. kenapa? apa gue gak pantes dapet perlakuan manis lo? yang ada gue cuma lo bikin kesel mulu. capek loh makan hati terus. makanya gue pengen banget cepet-cepet naik kelas dan gak sekelas sama lo lagi. kenapa? bukan karna gue benci sama lo. gue cuma capek kalo harus terus-terusan makan hati. gue cuma kasian sm diri gue sendiri.
sikap lo yang agak berlebihan ke salah satu pihak itu yang bikin gue risih (banget). bahkan bukan cuma gue loh yang sebel ngliat sikap lo itu. awalnya gue pikir cuma gue yang gak suka ngliat sikap lo yg berlebihan itu, karna gue pikir gue cuma cemburu. ya, cemburu. tp ternyata enggak, gak cuma gue!
gue sama sekali nggak benci sama lo, gue cuma benci sama diri gue sendiri kenapa gue masih belum bisa bersikap acuh kaya sikap lo ke gue!
tp gue yakin ini cuma masalah waktu, lambat laun gue yakin semuanya bakal balik lagi kaya semula. semuanya bakal baik-baik aja. pasti baik-baik aja :)
-DK-
well, this is for you :)
Aku berharap pada seseorang
yang tlah pergi,
Aku berharap kehadirannya,
Aku berharap kebaikannya,
Aku berharap perhatiannya...
Tapi..
Sering aku menangis karenanya,
Sering aku dikecewakannya,
Sering aku merasa disakiti
olehnya...
Lalu…
Apakah dalam kecewa, dalam
tangis dan dalam sakit itu ada
kebahagiaan yang aku dapatkan?
Apakah dengan kekecewaan ini,
dengan tangis ini,
dengan perasaan sakit hati ini,
dia menjadi mencintaiku?
Mungkin jawabannya TIDAK
Jadi…
Bukankah ini saat yang tepat
bagiku tuk pergi?
Bukankah ini saat yang tepat
bagiku tuk menjauh?
Setidaknya aku pergi dari rasa
kecewa ini…
Ya ini sangat sulit bagiku...
Tanpa kusadari…
Aku telah hanyut dalam harapan,
impian dan angan kosongku
sendiri...
Sedikit kata darinya sudah
membuat ku merasa
diperhatikan
Sedikit senyum darinya sudah
membuat aku berpikir dia peduli
Sedikit kabar darinya sudah
membuat aku terlena, tak
beranjak…
Ya… semua yg sedikit itu saja
sudah membuat aku bahagia…
Yg sedikit bahkan semu, sudah
membuat aku bertahan..
Untuk sesuatu yang KOSONG,
Untuk sesuatu yang tak pernah
dia pikirkan
Untuk sesuatu yang bukan apa-
apa untuknya
Dan esok, lusa, nanti ataupun
detik yang akan datang…
Aku akan kecewa, menagis dan
sakit hati lagi…
Ini saatnya aku melangkah…
Mendaki di terjal kehidupan dan
mengalir bagai sungai
Tak kan bertahan untuk harapan
yg tak pernah ada…
Tak kan menunggu hembus
angin yang lalu…
Aku tak ingin terbangun dalam
keadaan remuk
Selagi aku bisa berdiri…
Selagi airmataku belum habis
Selagi hatiku belum bernanah..
Biarlah sakitnya terasa hari ini..
Esok luka itu akan mengering
Biarlah dia menjadi bagian
kenanganku
Tapi dia tak lagi
menghancurkanku
Bahkan ketika aku pergi
Dia tak pernah menangisiku
Mungkin dia tak menyadarinya
Karena aku bukan yang
diharapkannya
Aku bukan yang dipirkannya
Aku bukanlah apa-apa baginya
Biarlah airmata ini menetes
sederasnya
Dan biarlah rasa sakit ini
menghunjam dalam
Tapi untuk yang TERAKHIR
kalinya….
Tuhan tidak menciptakan satu
orang didunia ini..
Diluar sana masih banyak yang
membutuhkanku..
Diriku kini hanya untuk mereka yang lebih
menghargai perasaanku.
Terimakasih 16 Desember untuk segala kebahagiaan, kesedihan, senyum, tawa, canda, airmata, amarah, sayang, kebaikan yang tlah kau berikan :) terimakasih telah mengajarkan banyak hal.. Terimakasih.
yang tlah pergi,
Aku berharap kehadirannya,
Aku berharap kebaikannya,
Aku berharap perhatiannya...
Tapi..
Sering aku menangis karenanya,
Sering aku dikecewakannya,
Sering aku merasa disakiti
olehnya...
Lalu…
Apakah dalam kecewa, dalam
tangis dan dalam sakit itu ada
kebahagiaan yang aku dapatkan?
Apakah dengan kekecewaan ini,
dengan tangis ini,
dengan perasaan sakit hati ini,
dia menjadi mencintaiku?
Mungkin jawabannya TIDAK
Jadi…
Bukankah ini saat yang tepat
bagiku tuk pergi?
Bukankah ini saat yang tepat
bagiku tuk menjauh?
Setidaknya aku pergi dari rasa
kecewa ini…
Ya ini sangat sulit bagiku...
Tanpa kusadari…
Aku telah hanyut dalam harapan,
impian dan angan kosongku
sendiri...
Sedikit kata darinya sudah
membuat ku merasa
diperhatikan
Sedikit senyum darinya sudah
membuat aku berpikir dia peduli
Sedikit kabar darinya sudah
membuat aku terlena, tak
beranjak…
Ya… semua yg sedikit itu saja
sudah membuat aku bahagia…
Yg sedikit bahkan semu, sudah
membuat aku bertahan..
Untuk sesuatu yang KOSONG,
Untuk sesuatu yang tak pernah
dia pikirkan
Untuk sesuatu yang bukan apa-
apa untuknya
Dan esok, lusa, nanti ataupun
detik yang akan datang…
Aku akan kecewa, menagis dan
sakit hati lagi…
Ini saatnya aku melangkah…
Mendaki di terjal kehidupan dan
mengalir bagai sungai
Tak kan bertahan untuk harapan
yg tak pernah ada…
Tak kan menunggu hembus
angin yang lalu…
Aku tak ingin terbangun dalam
keadaan remuk
Selagi aku bisa berdiri…
Selagi airmataku belum habis
Selagi hatiku belum bernanah..
Biarlah sakitnya terasa hari ini..
Esok luka itu akan mengering
Biarlah dia menjadi bagian
kenanganku
Tapi dia tak lagi
menghancurkanku
Bahkan ketika aku pergi
Dia tak pernah menangisiku
Mungkin dia tak menyadarinya
Karena aku bukan yang
diharapkannya
Aku bukan yang dipirkannya
Aku bukanlah apa-apa baginya
Biarlah airmata ini menetes
sederasnya
Dan biarlah rasa sakit ini
menghunjam dalam
Tapi untuk yang TERAKHIR
kalinya….
Tuhan tidak menciptakan satu
orang didunia ini..
Diluar sana masih banyak yang
membutuhkanku..
Diriku kini hanya untuk mereka yang lebih
menghargai perasaanku.
Terimakasih 16 Desember untuk segala kebahagiaan, kesedihan, senyum, tawa, canda, airmata, amarah, sayang, kebaikan yang tlah kau berikan :) terimakasih telah mengajarkan banyak hal.. Terimakasih.
Langganan:
Postingan (Atom)